Alternatif Penanganan Kanker Lebih Alami

WHO memprediksi terjadi peningkatan jumlah penderita kanker hingga 50 persen dalam rentang tahun 2000 hingga 2020. Prediksi ini cukup memprihatinkan mengingat penyakit ini menempati urutan keenam dalam daftar penyebab kematian terbesar di Indonesia.

Pasien kanker masih mengandalkan pengobatan terapi kimia atau kemoterapi. Selain hasilnya belum memuaskan, kemoterapi juga menyimpan sejumlah persoalan karena menimbulkan efek negatif bagi tubuh pasien.

“Meski bersifat tajam dan reaktif terhadap tubuh, terapi kimia masih menjadi andalan untuk penanganan kanker. Pengobatan herbal masih kurang begitu diminati,” kata Direktur PT Asindo Husada Bhakti, Oswald T Tampubolon, di Fakultas Farmasi, UGM, Yogyakarta, Rabu, 4 Juli 2012.

Pengobatan herbal biasanya baru dilirik saat frustasi dengan kemoterapi yang menyakitkan dan mahal. Pengobatan herbal hanya sebagai komplementer.

Ketua Cancer Chemoprevention Research Center (CCRC) Fakultas Farmasi UGM, Prof Dr Edy Meiyanto, M.Sc., Apt., mengatakan penanganan penderita kanker salah satunya dapat dilakukan dengan kemoprevensi.

Kemoprevensi kanker ini diperkenalkan untuk membuka alternatif penanganan masalah kanker dengan penggunaan agen baik berupa bahan sintetik maupun herbal secara tunggal ataupun campuran utuk mencegah, menghambat, dan mengembalikan fungsi normal tubuh.

“Awalnya agen kemoprevensi ditujukan untuk mencegah perkembangan tumor pada awal karsinogenesis sebelum terjadi invasi dan metastasis. Namun, dalam perkembanganya agen ini dapat digunakan sebagai agen komplementer untuk meningkatkan efikasi agen kemoterapi, salah satunya pada penggunaan doxorubicin,”katanya

Penggunaan doxorubicin sebagai agen kemoterapi dalam pengobatan kanker payudara juga menunjukkan efektivitas yang rendah serta menimbulkan oksisitas pada jaringan normal.

Lebih lanjut Edy mengatakan persoalan tersebut dapat diatasi dengan penggunaan agen kemoperventif yang dikombinasikan dengan agen kemoterapi. Selain dapat mengatasi resistensi sel kanker, kombinasi tersebut juga bisa meningkatkan efektivitas agen kemoterapi.

“Kombinasi ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas dan mengurangi toksisitas obat untuk jaringan normal sehingga lebih efektif dalam memerangi sel-sel kanker,” ujarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s